Pyxis & Edelweiss

by

Aku rasa rok katunku sudah basah, aroma ini, air, bunga, dan angin membuat kelopak mataku menutup perlahan, menikmati padang abadi ini.Jurang memang sangat dekat dari batang hidungku,aku tidak berani melangkah lebih jauh, malam membuat mata kakiku jadi buta, siluet benda hany dikenali dengan tiga ciri, hitam, abu-abu, dan putih .Aku bersandar di tubuh pohon tua yang paling besar...seandainya dia bicara akan kutanyakan apa yang terjadi disini sebelum aku lahir, sayangnya ia hidup dengan takdir 'bisu', tapi aku yakin ia mendengarku, terkadang aku merasakan bagaimana ia berusaha menjawabku dengan hentaman ranting dan tarian dedaunannya, kuharap waktu bisa menerjemahkan maksudnya untukku.

Aku kembali membuka mata menatap langit mencari bintang-bintang, ia terhalang oleh gerombolan dedaunan di ujung pohon, tapi tidak masalah, sesekali berkat teguran angin mereka memberi cela bagi bintang untuk mencuri pandang ke arahku...terkadang aku tersipu malu saat tertangkap cahaya sedang menatap ke arah mereka.




Tapi aku tahu maksud kerlap-kerlip itu, mereka pasti juga malu padaku. Malam yang tenang, ramai oleh celoteh serangga yang sedang berpesta, mungkin ada omelan seekor induk yang sedang mengomeli anak-anaknya, entahlah...tapi suara itu membuatku ingin bertemu dengan sebagian jiwaku yang terpisah, semakin dingin sekarang bukan hanya rok ku yang basah, seluruh rambutku terasa lembab dari pangkal hingga ujung, jari-jari dan telapak tangan seperti membeku. Disaat itu air mataku meleleh, aku rindu hangatnya, wanginya, dan ku ingin ia ada, berada di padang abadi ini dengan ku, aku rindu dirinya....matanya adalah mataku, aku rindu ibu, perempuan luar biasa itu adalah alasan kenapa aku selalu membuka mata untuk matahari, tanpanya aku memilih hidup dalam mimpi dimana aku bisa bahagia dengannya selamanya bersama edelweis, dan teman-teman pyxie..seperti malam ini, selamanya seabadi bungaku...

 Edelweiss..........